Resensi Buku Ainomics (2021): Ketertarikan Kita Terhadap AI Boleh Tinggi, Namun Tidak Semudah Itu Untuk Mewujudkannya
Sumber gambar: Gramedia Digital
Salah satu topik yang paling sering dibicarakan ketika membahas Artificial Intelligence (AI) adalah pertanyaan besar: apakah suatu saat AI benar-benar bisa menggantikan peran manusia? Perkembangan AI juga memunculkan diskusi ilmiah mengenai dampaknya—apakah teknologi ini akan membawa lebih banyak manfaat atau justru masalah baru. Faktanya, perkembangan AI berlangsung sangat pesat dan sudah membawa pergeseran nyata, terutama di dunia bisnis. Mesin-mesin canggih mulai menggantikan peran manusia di pabrik, AI digunakan sebagai penasihat penulisan konten media sosial, bahkan menjadi jalan pintas bagi sebagian orang untuk menyelesaikan tugas sekolah melalui bantuan seperti ChatGPT. Saya membaca buku Ainomics pada Januari 2026, ketika teknologi AI sudah berkembang jauh dibandingkan saat buku ini ditulis dan diterbitkan pada tahun 2021. Pada masa penulisan buku ini, pandemi Covid-19 masih berada di puncaknya, khususnya di Indonesia dan Jakarta. Situasi tersebut memaksa manusia untuk tetap produktif di tengah pembatasan sosial. Dari sinilah lahir kebiasaan-kebiasaan baru seperti pembelajaran jarak jauh, kerja dari rumah (work from home), kewajiban pemindaian suhu tubuh di tempat umum, hingga pembatasan ibadah berjamaah demi mencegah penyebaran penyakit. Dalam konteks itulah dua ahli teknologi, Komang Budi Aryasa dan Cahyana Ahmadjayadi, berkolaborasi menulis Ainomics. Menariknya, Komang Budi Aryasa juga dikenal sebagai sosok di balik aplikasi PeduliLindungi, yang kala itu berperan penting dalam pelacakan pasien Covid-19 dan terhubung langsung dengan sistem rumah sakit. Latar belakang penulis dan situasi zamannya membuat buku ini terasa relevan dan membumi. Awalnya, saya mengenal buku ini dari aplikasi iPusnas dan membacanya secara singkat di waktu luang. Karena merasa tertarik, saya memutuskan untuk membeli versi fisiknya. Harapan saya sederhana: ingin memahami bagaimana perkembangan AI di Indonesia sekaligus mendapatkan gambaran umum tentang bagaimana AI dibuat dan diterapkan. Setelah membaca buku ini hingga tuntas, saya menyadari bahwa banyak hal tentang AI yang sebelumnya tidak saya ketahui. Sebagai pembaca, saya merasa tercerahkan dan “dibangunkan” dari anggapan bahwa membangun teknologi AI adalah sesuatu yang mudah. Pada bagian awal, buku ini merangkum sejarah perkembangan AI, yang berawal dari diskusi-diskusi ilmiah di perguruan tinggi di Amerika Serikat hingga berkembang menjadi teknologi canggih seperti sekarang. AI digambarkan sebagai teknologi yang meniru cara kerja otak manusia dalam menjalankan tugas tertentu, seperti penalaran, pendengaran, dan pemrosesan data. Di bagian ini, saya cukup terkesan dengan cara penulis menggunakan analogi sederhana untuk meyakinkan pembaca bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai teman, bukan sebagai lawan, karena tujuannya adalah mempermudah pekerjaan manusia. Namun, buku ini juga tidak menutup mata terhadap sisi gelap perkembangan AI. Akan sangat naif jika kita menganggap AI hanya membawa dampak positif. Beberapa pekerjaan yang bersifat rutin, seperti pengepakan barang, penyortiran gudang, hingga pengiriman, sudah banyak digantikan oleh sistem otomatis dan AI, seperti yang terjadi di perusahaan Amazon. Selain itu, pengembangan mobil tanpa pengemudi (self-driving car) juga semakin masif. Cepat atau lambat, perkembangan AI memang harus dihadapi, bukan dihindari. Bersikap acuh justru bisa berbahaya, karena bukan tidak mungkin dampak negatif seperti pemutusan hubungan kerja akibat otomatisasi juga akan terjadi di Indonesia. Lebih jauh, penulis membawa pembaca pada kenyataan bahwa hampir semua sektor industri dan jasa dapat mengadopsi AI. Di bidang kesehatan, misalnya, AI dapat membantu dokter dalam memberikan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, menyusun resep obat, serta mengurangi kesalahan yang tidak disengaja saat tindakan medis atau operasi dilakukan. Contoh-contoh ini membuat pembaca menyadari bahwa AI bukan sekadar konsep futuristik, tetapi sudah dan akan terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pembaca awam di bidang AI, saya awalnya berpikir bahwa menerapkan AI adalah sesuatu yang relatif sederhana. Namun, justru di sinilah kekuatan buku ini. Penulis menjelaskan langkah-langkah untuk mengubah sebuah ide menjadi produk atau bisnis berbasis AI. Saya merasa “ditampar” dan mulai sadar bahwa ide-ide besar yang dibahas di awal buku hampir mustahil diwujudkan sendirian. Buku ini secara gamblang memaparkan bahwa dibutuhkan tim dengan sumber daya manusia yang mumpuni, pembagian peran yang jelas, serta arsitektur AI yang dirancang secara matang agar risiko kesalahan dan bias dapat dikontrol. Sebagai penutup, pesan yang saya tangkap dari buku ini cukup jelas. Jika seseorang benar-benar tertarik menekuni bidang Artificial Intelligence, maka ketekunan dalam belajar adalah kunci utama. Banyak sektor kehidupan yang membutuhkan AI sebagai alat untuk meningkatkan nilai dan efisiensi. Buku Ainomics membantu pembaca membangun cara berpikir yang lebih terstruktur dan sistematis mengenai AI. Bahkan bagi saya yang tidak berasal dari latar belakang pendidikan IT, buku ini tetap terasa bermanfaat sebagai bacaan dasar. Oleh karena itu, saya merekomendasikan buku ini kepada pembaca lain, terutama mereka yang ingin memahami AI dari sisi konsep, dampak, dan peluangnya, sebelum melangkah lebih jauh ke bacaan teknis yang lebih mendalam.
Posting Komentar